Wednesday, December 26, 2007

End of Year: Time of Reflection

Now, we are really at the end of the year. In a matter of days, we are going to change our habit from writing down "07" to writing down "08".He-he.

Ok. Let's just cut the crap and off to the topic, I was spending my time in front of my computer during this damn holiday. I was trying to organize my folders and data. I am putting my files into a year-based-folder and I also erased unused files in order to spare free spaces for my disk. In simple words, I have been dating with a laptop!!

As I was busy with my new date, something just came up to my mind. It's like a question that needs no answer. But I just felt that it was interesting to discuss. The question is "Why doesn’t God make life like a folder or files?” So, we can delete the life we don’t want to remember, or we just edit our life when something we dislike happens. Or we can just undo our life whenever we made a wrong decision. (If you don't understand what I meant, try to watch CLICK! It talks about "fast forwarding" life.)

The latter, actually, it’s my favorite feature. UNDO!! Yeah, it is cool, isn't it? If I had that feature in my life, I would never be afraid of making any wrong decision. Further, I just could do something wrong and then UNDO again. Ha-ha. It is very interesting. Then, I would have never heard of terms they called "REGRETS".

But actually, the following question is "Am I really need it?" Or, "What am I going to be if I had the feature in my life?” I will love the feature until I found that I would never grow up. I won't just loss regrets but I will also lose the feelings. The feeling of learning something from my mistake, the feeling of taking all the blame for someone you care about, the feeling of losing a game, or maybe the feeling of losing someone precious in my life.

Yet, those feelings have made me who I am right now. Since those made me understand how great something will be. Like, I know that it is great to be a winner, since I know how bad it feels as a loser. I know how great to have someone in your life, since I know how sad being alone in this life. See?! I am learning from what I have been through. Probably, I need none of those features in my life. I’d rather sick of all those emotions things than live a life like a zombie. UNDO is just needed for the files!!! He-he.

What I am trying to say is: At the end of the year, I have been reminded of my yesterday through those questions about folders. I always assume that life would be the same. Things live and die, grow on decay. I am wondering why I can’t just remain. Next year might be filled by sorrow or lots of joy. And there’s no certain of what will be. And you know what, uncertainties is what we cannot see.

I found there are nothing much I can mend, nothing I could undo, and nothing I could edit about my past and my future. It is all in His wonderful plan. There is nothing much I can do about my life, but lay it to His hands. Perhaps, I need to change. Perhaps, change is good for me. What I do know is I have to change into something brand new. Therefore, let Him take over me. Then, I will find my future wonderful next year. Amen.

Merry Christmas 2007 and Happy New Year 2008!!


Sunday, October 14, 2007

Penemuan Hebat

Saya terinspirasi oleh temen saya Aldud yang ngepost tentang Jenius! nya dia. Sekarang saya akan ngepost tentang "penemuan hebat" saya..

#1 Celana Dalam = Selamat Malam
Pada suatu malam, saya beranjak pergi dari sebuah mall di bandung. Sampai parkiran, saya bayar karcis parkir dan saya tunjukkan STNK pada petugas yang ada di kotak 1x1 meter itu. Lalu, saya ucapkan salam dengan sedikit pelan *niat mengerjai* "Celana Dalam, Pak!!!!".. Si petugas yang gak tau pikun atawa budeg malah membalas salam saya dengan hangat, "Selamat Malam, Dek!!Hati-hati ya!!" WAQS!! Ternyata Celana Dalam sama dengan Selamat Malam ya?? Fakta ini sudah dibuktikan oleh orang lain juga.

#2 Wanita gak selamanya lembut (lembu iya!!)
Lelah berkutat dengan institut negeri (yang cewe2 nya under construction semua), sepulang kuliah, saya pergi mampir di universitas swasta. Maksudnya sih mau ketemu teman. Sesampainya disana, ketemu ama wanita cantik lagi kebingungan mencari gedung. Saya kebetulan lewat ditanyain. Hm, saya kan bukan mahasiswa sini?!!Akhirnya, karena niat mengerjain lebih tinggi dari niat ngebantu..(hitung2 gak ada yang kenal di kampus ini) saya ngerjain tuh cewe

Mba : "Maaf, nanya, gedung ini dmana ya?"
Ben : "oh, wastafel?!tuh ada dikantin mba!"*dengan tmpang bego*
Mba :(dikirain gak denger) "Bukan!Gedung ini dmana ya?"
Ben : (masih keliatan bego) "Oh, saya kira wastafel..Si Edo mah gak kenal sayanya ,mba!!" *ngeloyor pergi*
Mba : (masih belom ngerasa dikerjain) "Mas, ini lho..Gedung Ekonomi!!!"
Ben : "oo, kalo yang ini Sipil..nah yang itu, Hukum..kalo di tengah-tengah, itu gedung rektorat..(si mba masi berharap dia menemukan jawaban)..mm, tapi kalo ekonomi sih, saya gak tau mba.."
Mba : "anjing lu!!bilang dari tadi kek" (ngerasa dikerjain)

Nah,sapa bilang cewe selalu lembu?eh lembut?

#3 Douwes Deker tidak sama dengan Multatuli
Di suatu sesi kelas waktu SMA, saya punya keahlian tidur khusus untuk beberapa mata pelajaran. Salah satunya adalah Sejarah. Suatu saat, di sela-sela saya menikmati indah mimpi bersama Dian Sastro Hamengkubuwono Cipto Susanto (nih nama lengkapnya!), si guru menyadari perbuatan saya dan kemudian memanggil saya.

Guru : "Benganteng, ngapaen kaoo?(logat Batak pastinya)"
Ehm : "Eeeh.."*gugup tak bergerak*
Guru : "Coba kao jawab!!Sapa nama Indonesia Douwes Deker?"
(mendengar pertanyaan kelas dunia seperti ini, saya langsung memeras otak)
Ehm : "Eeehh,eeh,eeh,eeh (terus aja gitu ampe kiamat)"
Guru : "Sapa?" (sambil menyingsingkan lengan bajunya - disadur dari lirik lagu perjuangan "Bangun Pemuda-Pemudi")
Ehm : (sambil setengah putus asa) "Mas Douwes, Pak?"
3.....2.....1.....
Guru : "Huahahahahuhahhha.........."*lupa menghukum*

Nah, tuh guru gak bilang salah jawaban g. Alhasil, di ujian g juga nulis jawaban itu..

tobecontinued

Friday, August 24, 2007

“Ada lagi, Pak?”

“Ada lagi, Pak?”

Ketika Ramah Menjadi Sebuah Ironi

Waktu itu saya lagi berjalan-jalan di sebuah daerah di Jakarta Utara (Kelapa Gading) dengan maksud melepas lelah dari rutinitas KP. Berjalan sore-sore ternyata pilihan yang tepat. Akhirnya, timbul panggilan alam dari dalam perut untuk membeli makanan. Setelah memeriksa sekitar, akhirnya saya memilih untuk mampir di Circle K.

Anda pasti sudah pernah ke Circle K bukan? Begitu masuk ke Circle K, pelanggan selalu disambut dengan sopan dengan ucapan ”Selamat pagi!” atau ”Selamat Siang!”. Dan benar saja, saya, sore itu, juga disambut dengan ucapan ”Selamat Sore!”. Wah, ramah!Saya senang berada di sini. Apa gw borong aja smua jualannya? Begitulah pikiran saya merespon *ya ngga lah..hahaha*. Setelah masuk, saya mulai mencari makanan yang enak di makan dan minuman yang enak diminum (kalo masi inget, ini majas pleonasme). Akhirnya, pilihan saya jatuh pada Ice Cream Walls yang Chocoluv gitu. Waktu mau ngambil es krim tersebut, ternyata ada seorang Bapak dan Anak berkisar 5-6 tahun gitu yang lagi melihat-lihat juga. Sekilas, begini pembicaraan mereka yang saya dengar :

Sibapak : ”Kamu mau yang mana?”

Sianak : ”Yang itu aja,pak! (seraya mengacungkan telunjuk mungilnya ke arah Conello Chocoluv)

Dalam hati saya : Yak..pilihan kita sama nak!!haha..kelak berarti kita akan sama gantengnya..hihi

Sibapak : (agak berbisik) ”Jangan yang itu ya,nak!Bapak gak punya cukup duit buat yang itu..”(sambil merogoh saku dan mengeluarkan lembaran ribuan)

Sianak : (tersenyum, seakan menunjukkan ia mengerti)..he eh. (angguk sianak)

Sibapak : ”gmana kalo ini?”(sambil mengangkat sebuah es krim yang lebih murah)

Sianak : ”gak apa..dapat es krim aja Adit uda senang kok pak..”(ujarnya sambil tersenyum)

Oh,Adit nama sianak ternyata. Wah..si bapak bela-belain beli es krim buat anaknya dengan duit seadanya. HEBAT!

Kemudian saya segera mengambil es krim pilihan saya dan menuju ke kasir. Saya berada persis di belakang antrian sibapak dan sianak. Mata saya mengamati setiap inci dari 2 tubuh yang ada di hadapan saya ini. Dia begitu lusuh, pakaiannya juga tidak terlalu bersih. Yah, dari kalimat tersebut silakan menilai sendiri.

Akhirnya tiba giliran sibapak dan sianak untuk dilayani oleh kasir. Seperti biasa, setelah mendata belanjaan dari sibapak dan sianak (which is the only ice cream), si kasir berkata “Belanjaan ini aja,pak?Ada lagi?”. (buat yang pernah ke Circle K pasti tau kebiasaan ini). Niat si kasir memang tulus dan ramah. Dia ngelakuin hal tersebut ke semua pelanggan. Dan itu adalah sebuah prosedur.

Hanya saja, buatku, kali ini bukanlah sesuatu yang tepat. Dalam hati saya berkata, Kalau saja si kasir tau dan dengar pembicaraan tadi. Apa dia masih akan berkata seperti itu? Sibapak tidak punya uang lagi untuk beli yang lain. Dia hanya punya uang yang cukup membeli eskrim untuk anaknya. Yah..hanya itu!! Dan sekarang dia dihadapkan dengan sebuah pertanyaan ”Ada lagi,pak?”. Saya yakin hatinya pasti sedih. Mungkin pikirnya, kalau saja aku punya duit lebih banyak, aku akan beri lebih banyak lagi untuk anakku. Memang, akhirnya, dia tidak menjawab kasir itu. Dan kemudian ia membayar es krim yang dibelinya. Lalu, pergi keluar sambil merangkul bahu anaknya. Sedang anaknya menikmati es krim yang baru saja dibeli.

Saya juga melakukan hal yang sama dan keluar.

Kejadian itu membuat saya berpikir. Kasir itu hanya menjalankan prosedur ”keramahan” pelayanan di kasir dengan melontarkan pertanyaan itu. Tapi, seakan-akan hal itu kurang tepat untuk ditujukan pada sibapak dan sianak pada saat itu. Saya yakin si kasir juga berniat ramah tapi sekali lagi menurut saya itu kurang tepat. Pada saat, sibapak mungkin ingin memberi sesuatu istimewa pada putranya hari itu. Dan hanya itu yang dia bisa beri (Untungnya anaknya mengerti. Satu jempol buat si anak.), dia mendengar kalimat ”Ada lagi Pak?”. Buat si kasir, dia telah menjadi ramah..tapi saya tidak pernah tau apa makna kalimat itu buat sibapak dan sianak. Atau hanya saya yang terlalu sensitive?

Sunday, August 19, 2007

Chained Blogs

Saya tau dari teman kalo saya kena 'tagged' oleh dian amelincong dan si gendud dud aldud

Ok.Let's just bring it on. Here the rules are..
Each player of this game starts with 6 weird things about themselves. People who get tagged need to write a post of their own 6 weird things as well as state the rule clearly. In the end, you need to choose 6 people to be tagged and list their names. Don’t forget to leave a comment that says you are tagged in their comments and tell them to read your blog

1. I have a different patterns for different community.
It means, I can be a different persons at any different time for any different people. The point is I want to be accepted by others. So I will play their rule of game when I am around 'em..

2. I do not know how to judge whether this meal is delicious or not.
For me, it's just a meal. All I have to do is to eat that damn meal. And I am out of being a jury for a cooking competition. Lets just say that I don't know how to taste..

3. I like to bite my fingers' nails when I am riding motorbike.
I got 3 accidents for this weird thing. Hahaha..No need explanation, i guess..

4. I have nicknames for all my fren (ok.not all.just most of them:P). But i never told them (restricted 4 me.ha-ha)
those are not common nicknames. Like, "mosquito", "lele", "kodok", "kancil", "beruang", "tikus"..Relax!I wont mentioned who those nicknames refers to.ha-ha.

5. I still like to watch "TOM and JERRY"
No need explanations.

6. I like dolls.
No need explanations. I mean. I dont wanna to explain this.ha-ha

So, there you are..
Next Lucky Persons..
1. Moch Rifqi (tulislah ttg PK itu)
2. Bin Anindita (oi, buka topeng 'dewa' lah)
3. Nobi (curhat online juga boleh)
4. Loli (buka topeng 'dewi' dulu lah.hihi)
5. Monaaa
6. Anya

Actually, this is already weird when this chain still remain tagging..

Thursday, July 26, 2007

Menang

"Saya percaya bahwa setiap orang mempunyai hati dan apabila kamu bisa menyentuhnya, kamu akan bisa membuat perbedaan."

Uli Derickson


Ibunya menceritakan kisah itu kepada kami keesokan harinya.

Waktu itu Kenneth duduk di bangku sekolah menengah pertama dan merasa senang serta antusias sekali untuk ikut serta dalam kegiatan Special Olympics selama satu hari. Ketika kedua orangtuanya melihatnya penuh harap dari tempat duduk penonton, dia berdiri, dan menang, menjadi juara pertama. Dia merasa bangga akan pitanya dan sorak-sorai dari semua yang menyaksikan lomba tersebut.

Dia mengikuti lomba lari yang kedua. Persis di garis finish, ketika sekali lagi dia akan memenangkan pertandingan, dia berhenti, lalu berjalan keluar dari lintasan. Dengan lembut kedua orangtuanya bertanya kepadanya, "Ada apa, Kenneth? Kalau kamu terus berlari, kamu akan memenangkan satu lomba lagi."

Dengan polos Kenneth menjawab, "Tetapi, Mam, saya sudah memperoleh sebuah pita. Sedangkan Billy belum memiliknya."


Clifford dan Jerie Furness


Pernah berfikir menang adalah segalanya?

Seorang teman pernah menanyakan pada saya tentang makna sebuah kompetisi di mata saya. Jawaban saya sederhana, “Saya tidak tertarik dengan kompetisi.”. Sesaat, muka teman saya seakan terhenyak. FYI, dia adalah jajaran mahasiswa terbaik di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bandung. Kata-kata berikutnya yang keluar dari mulutnya, “Lho..napa?” Kalimat tanya ini kemudian dilanjutkan dengan sebuah wacana tentang makna sebuah kompetisi di mata ia sendiri. Karena cukup panjang dipaparkan di sini (lagian g lupa apa aja yang diomongin ama dia..hhaha), saya kasi intinya aja yahh.. Intinya, dia tuh nganggap kompetisi itu adalah sesuatu yang dibutuhkan orang untuk bertahan hidup. Karena hidup adalah kompetisi. Harus ada yang menang dan harus ada pihak yang kalah.

Yak..dia menyebutkan poinnya!!!Itu yang saya maksud, saya tidak suka ada pihak yang kalah, saya senang kalo smua pihak menang. Dan kalaupun harus ada pihak yang kalah, ntah napa saya merasa lebih kuat untuk menjadi pihak yang kalah dibanding orang lain.

Lihat cerita di atas, Kenneth memberi kemenangan miliknya untuk Billy. Knapa?Karena Kenneth merasa telah mendapatkan dan merasakan kemenangan itu dan Billy belum.. Pembaca bisa tebak cerita selanjutnya. Tentu saja si Billy akan merasa terharu dan mengingat Kenneth sebagai pahlawannya. Dan yang pasti Kenneth memenangkan hati Billy. Itu yang saya maksud dengan kemenangan. Itu arti kompetisi buat saya. Saya selalu mengharapkan kemenangan bersama.Walaupun saya tau itu tidak rasional.

Pembaca masih kurang sepakat?OK. Skarang coba kita refleksikan ke diri kita. Saya akan menguji anda dengan pertanyaan berikut. Siapa Nama Miss Universe tahun 2000? Siapa peraih Guiness Book of Record terbanyak? Siapa siswa teladan t.a 2002/2003 di provinsi anda? Sebutkan nama Miss Indonesia 10 tahun belakangan? It’s quite difficult, isn’t it? Ok, saya coba ganti pertanyaannya.. Sebutkan 10 teman terbaikmu? Sebutkan nama teman sebangkumu 3 tahun lalu! Sebutkan nama orang yang paling anda cintai! Sebutkan tanggal lahir setiap orang di keluarga anda!? Quite simple?! They’re, even, easier to answer. Don’t you think so?

Lihat, bagaimana dengan mudahnya kita melupakan ‘pemenang-pemenang’ kompetisi yang hebat. Mereka adalah orang yang harusnya dikenal dunia bukan?Mereka berhasil memenangkan kompetisi dengan hebat , tapi dengan cepat mereka terlupakan..hilang..tak berbekas..Tapi, bagaimana dengan orang-orang yang berhasil menyentuh hati anda? Mereka bukan pemenang..Bukan kompetitormu..Mereka hanya orang yang berhasil menjadi bagian dari hidup anda. Yah, hanya itu yang mereka lakukan. Bahkan, mereka tidak akan pernah layak dibandingkan dengan para ‘juara’ itu. Tapi anda mengingatnya bukan? Bahkan, detail dari momen yang anda bagi dengan mereka pasti masih teringat jelas.

Lalu, dimana letak kesalahan pemikiran saya tentang kompetisi?

Di luar itu semua, saya juga bukan tidak menyenangi kemenangan. Hanya saja kemenangan hanyalah sebuah output yang dari sebuah hasil kerja keras yang saya lakukan. Itu kemenangan buat saya. Dan kompetisi adalah pertarungan dengan keadaan dan bukan dengan orang (kompetitor) lain.


Beri tahu saya jika salah!!


AtMoSpHeRe_1024

Namanya Hen[d]ra?!

For ‘the-better-life’:


Akhirnya dengan segala pertimbangan yang matang dan mapan, akhirnya saya berani mengambil keputusan untuk memperkenalkan blog ini pada teman-teman.


Sebenarnya alasan saya tidak langung memperkenalkan adalah karena terlalu jelek tulisan seorang mahasiswa untuk dibaca oleh mahasiswa lain… Hahhaa..intinya, sih, emang saya yang kurang percaya diri aja sih dengan tulisan sendiri..hehhe..


Akhirnya, dengan mengedit (ada yang dihapus juga) postingan yang bersifat private, maka jreng..jreng..silakan menikmati…hahha..kritik dan saran sangat dibutuhkan.


.........................................................................................................................................................................


Off to our main topic, minggu terakhir kerja praktek.. bukannya nyantai malah nambah pusing aja..arghh..Sekilas tentang kerja praktek nih:


Ada seorang bapak yang bernama Henra (gak pake ‘d’). Orangnya rada medok-medok gitu. Ternyata, saya belajar satu hal bahwa medok dapat mempengaruhi nama. Lihat contohnya :


(hari pertama KP)

G: (celingak-celinguk gak jelas, mulai kebingungan dengan topik KP)

Henra: ”Eh,PKL disini yak?” (niatnya ramah, medoknya mulai kerasa)

G: (dengan gak kalah ramah) ”Iya pak!Kenalin nama saya Brad Pitt, ehm, panggil aja Benhard.”

Henra: ”Oh nama saya Hen[d]ra” (baca dengan logat Jawa)*sambil tersenyum manis*

G: ”oooohhh, Pak Hendra?!” (sambil menjabat tangan) *sok yakin*

Henra: ”oh, bukan..bukan!! Tapi Hen[d]ra..” (masi dengan ramah dan MEDOK)

G: (mulai bingung?!) ”Ha?!Iya, Pak..Hendra khan?”


Sosok yang disinyalir memiliki IQ berkisar 150 tersebut mulai ’gerah’ dengan salah penyebutan namanya.


Henra: ”BUKANNN!!!Hen[d]ra....bukan Hend[d]ra?(coba baca dengan logat Jawa, apa bedanya?)

G: ?!!@#$@*mengumpat dalam hati* apa sih maunya ni Bapak?


Akhirnya, pria dengan IQ berkisar 150 tersebut akhirnya menemukan ide brillian....yak,menulis namanya di atas kertas!!(brillian dari mana?hongkong?!)

Di atas kertas terlihat tulisan, H-E-N-R-A..


G: *masi tampang polos dan ramah* oooooooooooooooo(ampe kiamat), Henra?! (kali ini sambil menunjukkan wajah lega)

Henra: Iyah..bener..HEN[D]RA..gitu aja kok repot?!(tuh masi Hendra khan?)

G: *dalam hati* makanya ngomong yang jelas donk...

Yah, akhirnya hari-hari KP g dilewati dengan si Hen[d]ra ini..hidup tidak pernah seburuk ini sebelumnya..fiuhh..Welcome to my new world...hahah..


Tuesday, July 17, 2007

Cinta itu Kesempatan atau Pilihan ???

Saat kita bertemu dengan seseorang yangsempurna, yang kita cintai di saat yang tepat, di tempat yang tepat dan di waktu yang tepat.

Itu adalah kesempatan.


Saat kamu bertemu seseorang yang membuatmu tertarik.

Itu bukan pilihan.

Itu adalah kesempatan.


Selalu bersama/bertemu dalam suatu waktu (dan banyak pasangan yang jadian karena hal ini) bukanlah suatu pilihan.

Itu adalah kesempatan .


Perbedaannya adalah setelah semuanya itu terjadi.


Kapan kau akan membawa rasa cinta, suka, ketertarikan tersebut naik ke tingkat selanjutnya?


Ketika kemudian akal sehat kita kembali bermain, kita akan duduk dan menimbang kembali apakah kau ingin melanjutkan hubungan tersebut atau melepaskannya.



Jika kau memilih untuk mencintai seseorang tersebut, meskipun dengan segala kekurangannya, itu bukanlah kesempatan.

Itu adalah pilihan.


Disaat kau memilih untuk bersama dengan seseorang, tidak peduli dengan hal lainnya.

Itu adalah pilihan


Meskipun kau tahu banyak orang di luar sana yang lebih menarik, pintar, dan lebih kaya daripada pasanganmu, dan ya, kau memutuskan untuk tetap mencintai pasanganmu apa adanya.

Itu adalah pilihan.


Cinta, suka, ketertarikan datang kepada kita dari kesempatan.

Tetapi cinta sejati itu adalah sungguh-sungguh suatu pilihan.

Sebuah pilihan yang kita buat.


Berkenaan dengan teman sejiwa atau pasangan hidup, ada sebuah kutipan indah dari seorang bijak :

"Nasib membawamu untuk bersama, tetapi untuk tetap bersama sampai akhir itu semua tergantung dari dirimu."



Saya percaya bahwa teman sejiwa itu benar-benar ada.

Bahwa ada seseorang khusus diciptakan untukmu.

Tetapi itu masih tetap tergantung pada dirimu untuk membuat pilihan tersebut, apakah kau akan melakukannya atau tidak.


Kita mungkin akan menemukan teman sejati kita dengan kesempatan yang ada, tetapi untuk mencintai dan bersama dengan teman sejiwa kita, itu adalah tetap pilihan kita untuk mewujudkannya.


Kita datang ke dunia ini bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk mencintai...

Tetapi untuk belajar, bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan sempurna...


rewrite by AtMoSpHeRe_1024

Is It Heart or Logic That Leads?


Is It Heart or Logic That Leads? God created both. He leads.

Satu kalimat yang tertera di sebuah halaman friendster.com dari seorang teman…


Untuk sesaat pun aku berpikir dan mencoba merefleksi diri. Aku adalah aku dengan akumulasi pilihan dan konsekuensi yang telah aku pilih sebelumnya. Lantas, dengan apa semua pilihan itu aku buat? Apa aku memilih dengan hati selama ini? Kalau iya, akan jadi apa aku kalo aku memilih dengan logika ku? Atau apa aku memilih dengan logika selama ini? Kalau iya, akan jadi seperti apa aku bila memilih dengan hatiku?


Aku tak pernah tau...dan aku tak perlu tau


Yang aku tau, kalimat itu mengajarkan aku sesuatu. Kalo logika dan hati adalah hasil ciptaan DIA yang sering digunakan manusia untuk dasar pilihan mereka, maka seharusnya DIA, sang pencipta logika dan hati itu yang harus menjadi dasar pilihan kita kan?


Beri tau aku kalau aku salah!!

Pilihan – Pilihan Ku

Saat semua dalam sebuah pilihan, ntah kenapa semua hal menjadi sulit. Benarkah ada pilihan yang benar dalam segala kondisi? termasuk kondisi yang intens? atau benarkah ada pilihan yang salah? Biar ku beri sebuah contoh,Saat sebuah kenyamanan mulai terusik oleh masalah seorang sahabat, layakkan amarah menjadi jawabnya? Yah, hanya satu yang aku tau benar. Hidup adalah perjalanan penuh pilihan. Pilihan yang benar-benar sulit, pilihan yang cukup untuk membunuh 'jiwa dan pribadi seseorang yang sebenarnya'.


Sesaat semuanya seakan direfleksikan terhadapku. Dulu, aku dapat mengambil keputusan tanpa dapat dipengaruhi lingkunganku. Bahkan, aku adalah yang terbaik dalam melakukannya. Ketika aku tersadar, sekarang aku bukanlah aku lagi. Aku mulai terpengaruh rasa 'kekhawatiranku'. Aku mulai menurut pada ketakutanku. Parahnya, Aku mulai kompromi dengan 'keadilanku' dan 'kemauanku'. Akibatnya, hidup dalam pilihan pun menjadi mimpi burukku. Benarkah caraku ini?


Ntahlah, benar atau tidak pun seakan tidak penting lagi. Yang aku percaya sekarang adalah aku melakukan sesuatu dengan sungguh (sekalipun salah). Tidak, ini bukan berbicara salah menurut Undang-undang, tapi salah menurut opini publik atau bahkan hanya sebagian orang. Aku hanya bisa mencoba setiap jalan yang berbeda dan akhirnya mengetahui hasil dari setiap jalan tersebut.


Jangan!! Coba hentikan aku sebentar lagi..Aku ingin merasakan 'jatuh'..Karena pada saat itu aku tau betapa indahnya 'bangun' dari 'kejatuhanku'. Saat itu akan kuceritakan tentang hidup versiku dengan lantang..Entah hidup yang penuh dengan pilihan atau kepastian? Aku belum atau tak akan pernah tau?


created by AtMoSpHeRe_1024

Friday, June 29, 2007

God Lead

Saya hanya ingin bercerita tentang sesuatu hari ini. Sedikit tentang hidup saya yang luar biasa ini..

Belakangan kehidupan sangatlah tidak menentu, terkadang senang dan untuk beberapa saat kemudian sedih.. Sesaat pada saat berhasil mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita akan tersenyum dan bersyukur.. Atau parahnya, pada saat kita menginginkan sesuatu barulah mengingat tentang Yang Maha Kuasa..Ah, sungguh tidak adil!!!

Tapi itu yang dilakukan banyak orang termasuk aku di dalamnya..Yah, aku tidak menyangkal!!bahkan mungkin tidak pantas untuk menyangkal.. tapi, setelah aku telusuri jauh dan semakin jauh, sedikit aku menyadari tentang bahwa dalam diri yang tidak tersentuh terdapat perasaan yang memang merindukan Tuhan..tapi entah kenapa perasaan itu selalu dikalahkan dengan keinginan jiwa..Yang akibatnya adalah jatuh bangunnya aku di kehidupan ku..Kekhawatiran ku akan masa depan ku, nilai-nilai ku, dan keselamatanku..

Cukup!!Cukup semua kukatakan pada diriku..aku tidak lagi mau khawatir!!aku tidak lagi mau hidup dalam ketakutan..Sekarang adalah saat aku harus berserah dan berserah ..ya padaNya, Tuhanku Yesus Kristus...

Tuhan..

Ini aku, dengan segala kekurangan ku..

Dengan segala dosa ku...

Aku bawa padamu Tuhan...

Ampuni..Sucikan..Layakkan..

Ubah dan sempurnakan Tuhan..

Selalu melalui proses mu..

Setiap hari dan setiap waktu..

Hanya untuk Mu Tuhan..

Dalam nama Yesus Kristus Tuhan dan Raja..

Amen..

Jumat, 8 jun -07

Sahabat

Suatu hari seorang teman menelepon saya. Dia bercerita tentang kisah hidup yang sangat menyakitkan belakangan ini. Dia membawa topik tentang ”Persahabatan”. Intinya permasalahan dia adalah belakangan ini dia merasa ditinggalkan oleh teman-temannya yang dianggap dekat dengannya. Yah, puncaknya dia merasa sangat sendiri di kos dan akhirnya mengetahui fakta bahwa temannya sedang bermain dengan teman baru tanpa mengajaknya. Dia mulai merasa bahwa persahabatan selama ini tidak berarti apa-apa.

Teman saya tersebut membuka topik dengan prolog seperti yang saya tulis di atas. Setelah bercerita, teman saya tersebut mengeluarkan air mata. Yah, ia menangis. Sejenak saya coba menganalisis bagian bahwa ”...persahabatan ini tidak berarti apa-apa”. Hal yang pertama muncul adalah apakah teman yang dianggap sahabat itu juga menganggap ia sahabat?Atau hanya pengakuan dari satu pihak sehingga muncul suatu premis yang salah?Ntahlah. Tapi menurut g tentang apa yang disebut sahabat adalah sebagai berikut :

Sahabat. Bukan sebuah terminologi yang mudah disematkan ke banyak orang. Tapi cukup mudah untuk disebutkan ke banyak orang. Seberapa perlu sih seorang sahabat ada di hidup ini?Buat banyak orang, inti sebuah sahabat adalah take and give. Kalau dulu mungkin masih benar quote nya. Tapi sekarang, hal itu sudah tidak relevan lagi. Inti dari seorang sahabat adalah orang yang datang pertama pada saat kita disenangi orang, dan orang yang paling terakhir pergi pada saat kita ditinggalkan orang. Bahkan, mungkin sahabat itu tidak perlu pergi saat kita ditinggalkan orang.

Dari kedua bagian di atas, tampaknya bagian yang paling sulit terealisasi adalah bagian ketika ditinggalkan orang. Banyak orang yang tidak bisa ”stand up for someone else”. Soalnya, hal ini erat kaitannya dengan pengorbanan (baca : pemberian tanpa pamrih). Pengorbanan berbicara waktu, tenaga, biaya, dll. Di saat seperti ini pasti kita mulai memikirkan kepentingan sendiri. Tidak jarang muncul statement sbb: ”Duh, ni orang curhatnya kok skarang sih?gw khan mao tidur..GRRR” atau ”Apa lagi sih ini?Minjem duit lagi, bagi pulsa lagi..”. Terlalu ekstrim? Silakan pembaca sendiri yang menilai.

Intinya, sekalipun ada orang yang bisa memenuhi kriteria ’sahabat’ di atas, ia juga tidak akan menjadikan kita sebagai main prioritynya. Dan itu pasti!! Lihat bagaimana persahabatan mulai memudar ketika menemukan sesuatu yang lebih kuat dari persahabatan, yaitu Cinta. Yah, kalau ini mah di sinetron juga banyak ditemukan. Atau bahkan di kehidupan nyata sekalipun.

Karenanya, saya berpendapat bahwa sahabat yang benar-benar disebut sahabat sangat sulit dicari. Namun, kebutuhan kita akan sosialisasi dengan teman mutlak dibutuhkan. Karenanya, saya cenderung berteman dengan banyak orang tanpa pernah bersahabat. Bukan karena saya takut dikecewain sahabat. Hanya saja, setiap orang bisa dekat dengan yang lain karena kesamaan kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan yang berbeda-beda itulah yang menyatukan suatu kumpulan komunitas. Jadi, perlu ada sahabat kalo teman pun mampu menyediakan ’kebutuhan’ kita tersebut? Hanya kalian yang tahu diri kalian sendiri.

Untuk seorang TEMAN.

Saturday, April 14, 2007

Saatku Pulang..

Ntah napa..Lagi pengen bersyukur buat semua yang uda terjadi dan yang ada..

Terima Kasih Tuhan buat hidup yang selalu 'terbaik' buat ku ini.


Terima Kasih Papa..

Sosok yang mengajarkan sebuah kerja keras dan tekad adalah modal awal dalam hidup.. Masih teringat saat Papa menceritakan kehidupan mandiri mu yang tak kenal kata 'menyerah'..Raih mimpimu dengan semangat mu!!Rangkaian kata-kata yang terlintas kuat saat aku tak punya dasar untuk membangun mimpiku..Sekali lagi, Terima Kasih Papa..


Terima Kasih Mama..

Wanita satu-satunya yang ada ketika ku beranjak dewasa di keluarga ku..Wanita karir sekaligus Ibu yang hebat bagiku..Sosok yang memberiku pelukan saat kegagalan menerpaku..Yang menemaniku menangis saat kesedihanku.. Juga, yang menemaniku tertawa saat ku memerlukannya.. Bertahan nak.. Semenit lebih lama dari yang lain.. Mulanya aku berpikir ini hanya sebuah quote yang tidak berbeda dengan quote lainnya..Tapi kata-kata itulah yang membuatku bertahan saat aku selangkah lebih dekat dengan kehancuran..

Terima Kasih untuk kedua orang tua ku..

Untuk pendidikanku,

Untuk pertumbuhanku beranjak dewasa,

Untuk menjadi orang yang paling kuandalkan..

Kalian mungkin tidak punya harta untuk kehidupanku tapi kalian punya hati yang menghidupkanku..


Terima Kasih David..

Abang yang hebat ini yang menjadikan ku orang yang berwawasan.. Rasa sosial ku terbentuk darinya.. Dia memang keras untuk hal yang dibencinya namun itu yang membuatnya berpendirian teguh.. Dia bukan sekedar saudara namun sahabat terbaikku.. Karena dia tak perlu sebuah alasan untuk peduli terhadapku.. Open up your mind!! Mungkin ini hanya sebuah kalimat yang terucap dari pembicaraan kita.. tapi ini adalah sebuah awal bagiku untuk berpikir beda. Kau ajarkan ku melihat dari berbagai cara..juga, ajarkanku mengatasi masalah-masalah ku. Terima Kasih..


Terima Kasih Andre..

Belum pernah ada aku menemukan seorang adik mengajarkan abangnya dengan hebat.. Tapi kau berhasil!! Kau ajarkanku melalui caramu sendiri, melalui kejadian-kejadianmu.. Aku pun sekarang belajar menjadi seorang penasihat dan teladan yang baik untukmu.. terima Kasih telah mendengarnya.. Terima kasih telah mematuhinya..


Erghh..Keluarga...

Tempatku kembali saat aku tak punya tempat untuk pulang...

Tempatku menemukan cinta dan kasih di tempat yang sama...

Tempatku menjadi aku tanpa harus merasa risih...

Dan tempatku menemukan makna hidupku...

Terima Kasih Tuhan..buat semuanya..buat segalanya..

Saat mataku tak dapat melihat dan mulutku tak mampu berbicara,

ku punya kalian yang mengajarkanku

melihat dengan hati serta mendengar dengan arti

-for the better life-

Wednesday, March 7, 2007

Damai Natal Sebuah Ironi

Perang Dunia ke – 2 lagi berkecamuk hebat di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Suhu udara mencapai 30 derajat Celcius dibawah nol (bayangin kalo kalo es mulai membeku pada suhu 5 derajat di atas nol). Di perbukitan pedalaman Perancis, tentara Jerman (yang waktu itu dijadikan musuh bersama dengan Hitlernya yang terkenal itu) berhadapan langsung dengan lawannya tentara Amerika, siap dengan senjata yang terisi penuh buat membantai lawan msin-masing. Jarak mereka Cuma beberapa puluh meter saja, dipisahkan sama parti-parit penjagaan yang digali sambil merayap oleh dua pasukan yang sedang berperang. Dua pasukan yang kelelahan , kedinginan dan sudah pasti stress berat itu, sejak beberapa hari sudah saling bantai. Nggak heran, kalo masing-masing mereka harus tega tidur di sisi mayat temannya yang membeku. Udara dingin memang membantu mereka untuk satu hal : mayat-mayat tidak akan membusuk dan menebar ‘kesulitan’ lain.

Udara malam kian menusuk dan ketegangan kian memuncak. Tampaknya, tinggal menunggu siapa yang paling nekat buat keluar dari paritnya dan melakukan serangan bunuh diri. Tapi, tunggu!! Tiba-tiba... entah suara dari mana, di hening malam, sayup-sayup terdengar lagu Malam Kudus. Nggak salah lagi. Hari ini adalah malam Natal. Para prajurit yang saling bertikai itu pun bertukar pandang dengan ragu. Perlahan namun pasti, entah kepercayaan diri dari mana, mereka membuang senajata dan keluar dari persembunyian, berdiri tepat di hadapan lawannya. Tentara Amerika kemudian bernyanyi, Silent Night, Holy Night.. dan tentara Jerman ikut melengkapi koor itu dengan bahasa mereka sendiri...Stille Nacht, Heilige Nacth... Rupanya, malam itu tanggal 24 Desember. Para serdadu yang tadinya buas itu tiba-tiba menjadi ’anak domba’. Mereka saling berangkulan, ngasih ucapan selamat penuh rasa haru bahkan saling tukar makanan kaleng bekal perang dan tentu saja, dengan hikmat menguburkan rekan mereka yang tewas. Nggak ada senjata, nggak ada kebencian. Damai Natal memenuhi udara malam.

Keesokan harinya, 25 Desember, dua kubu tersebut merayakan natal bersama dengan bermain sepak bola. Nggak ada kesebelasan Jerman atau kesebelasan Amerika. Mereka berbaur dan membentuk ’tim gabungan’. Mereka bersukaria dan tertawa-tawa sepanjang hari. Sekali lagi, indahnya Damai Natal. Tapi, menjelang malam saat mereka sedang menikmati kelelahan dengan damai, tiba-tiba radio berbunyi. Pasukan masing-masing diperintahkan buat siaga lagi. Secepat kilat prajurit itu kembali meraih senapan tempurnya dan kembali terjun ke parit perlindungan. Mereka kembali berhadapan sebagai musuh yang siap membunuh. Damai Natal tiba-tiba berubah menjadi angkara murka. Sebuah ironi Natal yang terus terjadi dari waktu ke waktu.....

Tuesday, February 27, 2007

Prologue

Memulai sesuatu berarti harus siap buat mengakhirinya kelak..
Ntah diiringi tangis atau tawa..

Sayangnya, bagiku kesusahan hari ini haruslah untuk hari ini..
Kesusahan besok masih bisa menunggu..

Ini blog, secara resmi, di buka *dug dug dug*

AtMoSpHeRe_1024

untuk sesuatu yang aku sebut "hidup yang lebih baik"