Tuesday, July 17, 2007

Is It Heart or Logic That Leads?


Is It Heart or Logic That Leads? God created both. He leads.

Satu kalimat yang tertera di sebuah halaman friendster.com dari seorang teman…


Untuk sesaat pun aku berpikir dan mencoba merefleksi diri. Aku adalah aku dengan akumulasi pilihan dan konsekuensi yang telah aku pilih sebelumnya. Lantas, dengan apa semua pilihan itu aku buat? Apa aku memilih dengan hati selama ini? Kalau iya, akan jadi apa aku kalo aku memilih dengan logika ku? Atau apa aku memilih dengan logika selama ini? Kalau iya, akan jadi seperti apa aku bila memilih dengan hatiku?


Aku tak pernah tau...dan aku tak perlu tau


Yang aku tau, kalimat itu mengajarkan aku sesuatu. Kalo logika dan hati adalah hasil ciptaan DIA yang sering digunakan manusia untuk dasar pilihan mereka, maka seharusnya DIA, sang pencipta logika dan hati itu yang harus menjadi dasar pilihan kita kan?


Beri tau aku kalau aku salah!!

Pilihan – Pilihan Ku

Saat semua dalam sebuah pilihan, ntah kenapa semua hal menjadi sulit. Benarkah ada pilihan yang benar dalam segala kondisi? termasuk kondisi yang intens? atau benarkah ada pilihan yang salah? Biar ku beri sebuah contoh,Saat sebuah kenyamanan mulai terusik oleh masalah seorang sahabat, layakkan amarah menjadi jawabnya? Yah, hanya satu yang aku tau benar. Hidup adalah perjalanan penuh pilihan. Pilihan yang benar-benar sulit, pilihan yang cukup untuk membunuh 'jiwa dan pribadi seseorang yang sebenarnya'.


Sesaat semuanya seakan direfleksikan terhadapku. Dulu, aku dapat mengambil keputusan tanpa dapat dipengaruhi lingkunganku. Bahkan, aku adalah yang terbaik dalam melakukannya. Ketika aku tersadar, sekarang aku bukanlah aku lagi. Aku mulai terpengaruh rasa 'kekhawatiranku'. Aku mulai menurut pada ketakutanku. Parahnya, Aku mulai kompromi dengan 'keadilanku' dan 'kemauanku'. Akibatnya, hidup dalam pilihan pun menjadi mimpi burukku. Benarkah caraku ini?


Ntahlah, benar atau tidak pun seakan tidak penting lagi. Yang aku percaya sekarang adalah aku melakukan sesuatu dengan sungguh (sekalipun salah). Tidak, ini bukan berbicara salah menurut Undang-undang, tapi salah menurut opini publik atau bahkan hanya sebagian orang. Aku hanya bisa mencoba setiap jalan yang berbeda dan akhirnya mengetahui hasil dari setiap jalan tersebut.


Jangan!! Coba hentikan aku sebentar lagi..Aku ingin merasakan 'jatuh'..Karena pada saat itu aku tau betapa indahnya 'bangun' dari 'kejatuhanku'. Saat itu akan kuceritakan tentang hidup versiku dengan lantang..Entah hidup yang penuh dengan pilihan atau kepastian? Aku belum atau tak akan pernah tau?


created by AtMoSpHeRe_1024

Friday, June 29, 2007

God Lead

Saya hanya ingin bercerita tentang sesuatu hari ini. Sedikit tentang hidup saya yang luar biasa ini..

Belakangan kehidupan sangatlah tidak menentu, terkadang senang dan untuk beberapa saat kemudian sedih.. Sesaat pada saat berhasil mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, kita akan tersenyum dan bersyukur.. Atau parahnya, pada saat kita menginginkan sesuatu barulah mengingat tentang Yang Maha Kuasa..Ah, sungguh tidak adil!!!

Tapi itu yang dilakukan banyak orang termasuk aku di dalamnya..Yah, aku tidak menyangkal!!bahkan mungkin tidak pantas untuk menyangkal.. tapi, setelah aku telusuri jauh dan semakin jauh, sedikit aku menyadari tentang bahwa dalam diri yang tidak tersentuh terdapat perasaan yang memang merindukan Tuhan..tapi entah kenapa perasaan itu selalu dikalahkan dengan keinginan jiwa..Yang akibatnya adalah jatuh bangunnya aku di kehidupan ku..Kekhawatiran ku akan masa depan ku, nilai-nilai ku, dan keselamatanku..

Cukup!!Cukup semua kukatakan pada diriku..aku tidak lagi mau khawatir!!aku tidak lagi mau hidup dalam ketakutan..Sekarang adalah saat aku harus berserah dan berserah ..ya padaNya, Tuhanku Yesus Kristus...

Tuhan..

Ini aku, dengan segala kekurangan ku..

Dengan segala dosa ku...

Aku bawa padamu Tuhan...

Ampuni..Sucikan..Layakkan..

Ubah dan sempurnakan Tuhan..

Selalu melalui proses mu..

Setiap hari dan setiap waktu..

Hanya untuk Mu Tuhan..

Dalam nama Yesus Kristus Tuhan dan Raja..

Amen..

Jumat, 8 jun -07

Sahabat

Suatu hari seorang teman menelepon saya. Dia bercerita tentang kisah hidup yang sangat menyakitkan belakangan ini. Dia membawa topik tentang ”Persahabatan”. Intinya permasalahan dia adalah belakangan ini dia merasa ditinggalkan oleh teman-temannya yang dianggap dekat dengannya. Yah, puncaknya dia merasa sangat sendiri di kos dan akhirnya mengetahui fakta bahwa temannya sedang bermain dengan teman baru tanpa mengajaknya. Dia mulai merasa bahwa persahabatan selama ini tidak berarti apa-apa.

Teman saya tersebut membuka topik dengan prolog seperti yang saya tulis di atas. Setelah bercerita, teman saya tersebut mengeluarkan air mata. Yah, ia menangis. Sejenak saya coba menganalisis bagian bahwa ”...persahabatan ini tidak berarti apa-apa”. Hal yang pertama muncul adalah apakah teman yang dianggap sahabat itu juga menganggap ia sahabat?Atau hanya pengakuan dari satu pihak sehingga muncul suatu premis yang salah?Ntahlah. Tapi menurut g tentang apa yang disebut sahabat adalah sebagai berikut :

Sahabat. Bukan sebuah terminologi yang mudah disematkan ke banyak orang. Tapi cukup mudah untuk disebutkan ke banyak orang. Seberapa perlu sih seorang sahabat ada di hidup ini?Buat banyak orang, inti sebuah sahabat adalah take and give. Kalau dulu mungkin masih benar quote nya. Tapi sekarang, hal itu sudah tidak relevan lagi. Inti dari seorang sahabat adalah orang yang datang pertama pada saat kita disenangi orang, dan orang yang paling terakhir pergi pada saat kita ditinggalkan orang. Bahkan, mungkin sahabat itu tidak perlu pergi saat kita ditinggalkan orang.

Dari kedua bagian di atas, tampaknya bagian yang paling sulit terealisasi adalah bagian ketika ditinggalkan orang. Banyak orang yang tidak bisa ”stand up for someone else”. Soalnya, hal ini erat kaitannya dengan pengorbanan (baca : pemberian tanpa pamrih). Pengorbanan berbicara waktu, tenaga, biaya, dll. Di saat seperti ini pasti kita mulai memikirkan kepentingan sendiri. Tidak jarang muncul statement sbb: ”Duh, ni orang curhatnya kok skarang sih?gw khan mao tidur..GRRR” atau ”Apa lagi sih ini?Minjem duit lagi, bagi pulsa lagi..”. Terlalu ekstrim? Silakan pembaca sendiri yang menilai.

Intinya, sekalipun ada orang yang bisa memenuhi kriteria ’sahabat’ di atas, ia juga tidak akan menjadikan kita sebagai main prioritynya. Dan itu pasti!! Lihat bagaimana persahabatan mulai memudar ketika menemukan sesuatu yang lebih kuat dari persahabatan, yaitu Cinta. Yah, kalau ini mah di sinetron juga banyak ditemukan. Atau bahkan di kehidupan nyata sekalipun.

Karenanya, saya berpendapat bahwa sahabat yang benar-benar disebut sahabat sangat sulit dicari. Namun, kebutuhan kita akan sosialisasi dengan teman mutlak dibutuhkan. Karenanya, saya cenderung berteman dengan banyak orang tanpa pernah bersahabat. Bukan karena saya takut dikecewain sahabat. Hanya saja, setiap orang bisa dekat dengan yang lain karena kesamaan kebutuhan. Kebutuhan-kebutuhan yang berbeda-beda itulah yang menyatukan suatu kumpulan komunitas. Jadi, perlu ada sahabat kalo teman pun mampu menyediakan ’kebutuhan’ kita tersebut? Hanya kalian yang tahu diri kalian sendiri.

Untuk seorang TEMAN.

Saturday, April 14, 2007

Saatku Pulang..

Ntah napa..Lagi pengen bersyukur buat semua yang uda terjadi dan yang ada..

Terima Kasih Tuhan buat hidup yang selalu 'terbaik' buat ku ini.


Terima Kasih Papa..

Sosok yang mengajarkan sebuah kerja keras dan tekad adalah modal awal dalam hidup.. Masih teringat saat Papa menceritakan kehidupan mandiri mu yang tak kenal kata 'menyerah'..Raih mimpimu dengan semangat mu!!Rangkaian kata-kata yang terlintas kuat saat aku tak punya dasar untuk membangun mimpiku..Sekali lagi, Terima Kasih Papa..


Terima Kasih Mama..

Wanita satu-satunya yang ada ketika ku beranjak dewasa di keluarga ku..Wanita karir sekaligus Ibu yang hebat bagiku..Sosok yang memberiku pelukan saat kegagalan menerpaku..Yang menemaniku menangis saat kesedihanku.. Juga, yang menemaniku tertawa saat ku memerlukannya.. Bertahan nak.. Semenit lebih lama dari yang lain.. Mulanya aku berpikir ini hanya sebuah quote yang tidak berbeda dengan quote lainnya..Tapi kata-kata itulah yang membuatku bertahan saat aku selangkah lebih dekat dengan kehancuran..

Terima Kasih untuk kedua orang tua ku..

Untuk pendidikanku,

Untuk pertumbuhanku beranjak dewasa,

Untuk menjadi orang yang paling kuandalkan..

Kalian mungkin tidak punya harta untuk kehidupanku tapi kalian punya hati yang menghidupkanku..


Terima Kasih David..

Abang yang hebat ini yang menjadikan ku orang yang berwawasan.. Rasa sosial ku terbentuk darinya.. Dia memang keras untuk hal yang dibencinya namun itu yang membuatnya berpendirian teguh.. Dia bukan sekedar saudara namun sahabat terbaikku.. Karena dia tak perlu sebuah alasan untuk peduli terhadapku.. Open up your mind!! Mungkin ini hanya sebuah kalimat yang terucap dari pembicaraan kita.. tapi ini adalah sebuah awal bagiku untuk berpikir beda. Kau ajarkan ku melihat dari berbagai cara..juga, ajarkanku mengatasi masalah-masalah ku. Terima Kasih..


Terima Kasih Andre..

Belum pernah ada aku menemukan seorang adik mengajarkan abangnya dengan hebat.. Tapi kau berhasil!! Kau ajarkanku melalui caramu sendiri, melalui kejadian-kejadianmu.. Aku pun sekarang belajar menjadi seorang penasihat dan teladan yang baik untukmu.. terima Kasih telah mendengarnya.. Terima kasih telah mematuhinya..


Erghh..Keluarga...

Tempatku kembali saat aku tak punya tempat untuk pulang...

Tempatku menemukan cinta dan kasih di tempat yang sama...

Tempatku menjadi aku tanpa harus merasa risih...

Dan tempatku menemukan makna hidupku...

Terima Kasih Tuhan..buat semuanya..buat segalanya..

Saat mataku tak dapat melihat dan mulutku tak mampu berbicara,

ku punya kalian yang mengajarkanku

melihat dengan hati serta mendengar dengan arti

-for the better life-

Wednesday, March 7, 2007

Damai Natal Sebuah Ironi

Perang Dunia ke – 2 lagi berkecamuk hebat di tengah musim dingin yang menusuk tulang. Suhu udara mencapai 30 derajat Celcius dibawah nol (bayangin kalo kalo es mulai membeku pada suhu 5 derajat di atas nol). Di perbukitan pedalaman Perancis, tentara Jerman (yang waktu itu dijadikan musuh bersama dengan Hitlernya yang terkenal itu) berhadapan langsung dengan lawannya tentara Amerika, siap dengan senjata yang terisi penuh buat membantai lawan msin-masing. Jarak mereka Cuma beberapa puluh meter saja, dipisahkan sama parti-parit penjagaan yang digali sambil merayap oleh dua pasukan yang sedang berperang. Dua pasukan yang kelelahan , kedinginan dan sudah pasti stress berat itu, sejak beberapa hari sudah saling bantai. Nggak heran, kalo masing-masing mereka harus tega tidur di sisi mayat temannya yang membeku. Udara dingin memang membantu mereka untuk satu hal : mayat-mayat tidak akan membusuk dan menebar ‘kesulitan’ lain.

Udara malam kian menusuk dan ketegangan kian memuncak. Tampaknya, tinggal menunggu siapa yang paling nekat buat keluar dari paritnya dan melakukan serangan bunuh diri. Tapi, tunggu!! Tiba-tiba... entah suara dari mana, di hening malam, sayup-sayup terdengar lagu Malam Kudus. Nggak salah lagi. Hari ini adalah malam Natal. Para prajurit yang saling bertikai itu pun bertukar pandang dengan ragu. Perlahan namun pasti, entah kepercayaan diri dari mana, mereka membuang senajata dan keluar dari persembunyian, berdiri tepat di hadapan lawannya. Tentara Amerika kemudian bernyanyi, Silent Night, Holy Night.. dan tentara Jerman ikut melengkapi koor itu dengan bahasa mereka sendiri...Stille Nacht, Heilige Nacth... Rupanya, malam itu tanggal 24 Desember. Para serdadu yang tadinya buas itu tiba-tiba menjadi ’anak domba’. Mereka saling berangkulan, ngasih ucapan selamat penuh rasa haru bahkan saling tukar makanan kaleng bekal perang dan tentu saja, dengan hikmat menguburkan rekan mereka yang tewas. Nggak ada senjata, nggak ada kebencian. Damai Natal memenuhi udara malam.

Keesokan harinya, 25 Desember, dua kubu tersebut merayakan natal bersama dengan bermain sepak bola. Nggak ada kesebelasan Jerman atau kesebelasan Amerika. Mereka berbaur dan membentuk ’tim gabungan’. Mereka bersukaria dan tertawa-tawa sepanjang hari. Sekali lagi, indahnya Damai Natal. Tapi, menjelang malam saat mereka sedang menikmati kelelahan dengan damai, tiba-tiba radio berbunyi. Pasukan masing-masing diperintahkan buat siaga lagi. Secepat kilat prajurit itu kembali meraih senapan tempurnya dan kembali terjun ke parit perlindungan. Mereka kembali berhadapan sebagai musuh yang siap membunuh. Damai Natal tiba-tiba berubah menjadi angkara murka. Sebuah ironi Natal yang terus terjadi dari waktu ke waktu.....